Bismillahhirrahmanirrahim: بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم – Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh: السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ – ...

Kamis, 27 September 2012

Dunia Adalah Tempat Ujian


                                   Dunia Adalah Tempat Ujian                   

Disusun oleh Tedi Aryadi Di Darusalam Bandung  pada Tgl 26/9/2012

Mukodimah.

(Qs: Ta-Ha ayat 131. Artinya: Janganlah engkau tergiur pandang oleh kesenangan yang Kami berikan kepada beberapa keluarga di antara mereka, sebagai bunga kehidupan duniawi. Kami hendak menguji mereka dengan kesenangan itu. Namun karunia Tuhanmu lebih baik dan lebih kekal dari itu.)  

(Qs At-Taubah ayat 55 Artinya :  Janganlah kamu terpesona oleh harta benda dan anak-pinak mereka, karena dengan itu semua Allah hendak menyiksa mereka dalam kehidupan dunia ini, dan kelak akan melayang nyawa mereka dalam keadaan kafir )

 ( Qs : Al 'Ankabuut ayat 2 Artinya : Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi )

Pembahasan

Allah Swt, menciptakan dua kehidupan, yaitu kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Di akhirat,

Allah Swt. Menyiapkan dua tempat  Dunia & Akhirat.Dan di dunia ini Allah SWT. Hanya menjadikan dua jalan,yaitu jalan menuju jannah dan jalan menuju neraka. ( Qs al-balad ayat 10 )

Adapun kehadiran manusia di dunia ini bukanlah kehendak manusia itu sendiri, tetapi kehendak Allah Swt ..Sebagai mana Allah swt Berfirmana  didalam : ( Qs : 51 ayat 56 )  & ( Qs : 2 ayat 30 )

Bumi ini di ciptakan untuk manusia sebagai tempat untuk mendapatkan keperluan, dan Allah Swt. Menciptakan akhirat sebagai tempat tujuan hidup manusia.
Kehidupan di dunia hanya sementara,kalau pun  penderitaan yang dialami di dunia betapapun beratnya hanyalah sementara, begitupun kebahagiaan yang dirasakan bagaimanapun mewahnya hanyalah sementara.
Kehidupan di dunia walau milyaran tahun lamanya, suatu saat akan pasti berakhir, karna Allah Swt. Setiap Menciptakan makhluk –Nya pasti akan menemui yang bernama ‘kematian’. ( Qs : Al Anbiya ayat 35 )

Saudara ku Yang Sama-sama Mengharapkan Keridhoan Allah Swt.
Kehidupan di dunia walaupun sementara, tetapi sangat menentukan kehidupan selanjutnya, karena Dunia di ciptakan untuk persiapan akhirat. Dan kematian adalah awal kehidupan selama-lamanya.

Dunia adalah tempat beramal dan akhira adalah darul jasa. Apa yang di tanam di dunia akan di peroleh kelak di akhirat.

Nabi Saw. Bersabda, “dunia adalah ladang akhirat, barang siapa yang menanam kebaikan akan mendapat apa yang ia inginkan. Dan barangsiapa yang menanam keburukan akan mendapatkan penyesalan”

Saudaraku Yang sama-sama Menharapkan Keridhoan AllahSwt.
Orang-orang beriman akan memahami bahwa dunia bukanlah tempat bersenang-senang, sebab hanya jannahlah tempat besenang-senang dan dunia juga bukan tempat untuk beristirahat, sebab jika ingin beristirahat tempatnya nanti di alam kubur.
Allah Swt. Berkehendak dan manusia juga punya keinginan, hidup dan mati adalah kehendak Allah. Allah Swt.
Berkeinginan agar diantara kehidupan dan kematian itu manusia berjalan diatas perintah  Allah. Apabila manusia menyandarkan segala keinginannya kepada keinginan (perinta-perinta) Allah Swt,maka Allah Swt akan memenuhi segala keinginannya.

Namun jika manusia mengikuti keinginannya sendiri (tidak mau di atur dengan hukum-hukum Allah), maka Allah Swt. Akan membuatnya sibuk dengan keinginannya tampa ada rasa puas sedikit pun serta akan menanamkan rasa kefaqiran dalam kehidupannya.

Saudaraku Yang sama-sama Mengharapkan Keridhoan Allah swt.
Dunia ini ibarat penjara bagi orang-orang beriman, karna itu ia tidak akan merasa betah hidup di dunia ini juga tida akan merasa bebas melampiaskan keinginan hawa nafsunya, Karena harus taat pada peraturan yang telah ditetapkan Allah Swt
.
Banyak orang mengira Bahwa orang yang pandai adalah orang yang mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya,
Rasulullah Saw. Bersabda “orang-orang cerdik adalah orang yang sibuk mengumpulkan amal amal shalih untuk menyiapkan kehidupan akhiratnya”
Karena negeri akhirat hanya untuk orang yang membawa imam dan amal shalih
Dunia ini tidak ada nilainya dihadapan Allah Swt. Karna tidak lebih berat dari sebelah sayap nyamuk.

Rasulullah Saw bersabda “seandainya dunia ini berharga disisi Allah daripada sebelah sayab nyamuk, niscaya ia tidak akan memberi minum darinya setetes air pun kepada orang orang kafir.

Dunia ibarat tempat sampah, seluruh lubang dan pori-pori di tubuh manusia mengeluarkan kotoran. Memang setiap saat perlu ke WC, tetapi bukan berarti harus duduk selama 24 jam di dalam WC.
Bila 24 jam berada di WC, maka tak lama lagi ia akan dibawa ke rumah sakit jiwa.
Betapa banyak orang-orang terdahulu yang tertipu dengan dunia. Sekarang gilirang kita, apakah akan mengikuti orang yang tertipu atau orang-orang yang sukses, yaitu para sahabat r.a.?

Rasulullah Saw. Berwasiat, “aku tidak takut ummatku nanti akan kelaparan atau kembali menyembah berhala (musyrik), tapi yang aku takutkan adalah ummatku akan jatuh cinta pada dunia.”
Rasulullah Saw. Bersabda, “cinta dunia adalah sumber dari segala kesalahan.” (Hr. baihaqi) Apabila manusia cinta pada pangkat dan jabatan, masihkah dia cinta jika sudah pension atau dipensiunkan?
Pangkat yang tertinggi adalah ‘almarhum’, apakah masih mencintai dunia ini dengan segala isinya?
Manusia mengandalkan kegagahan dan kekuatan fisik, masihkah membanggakangnya jika sudah tua renta?
Rasulullah Saw. Bersabda, “ bahwa siapa yang mencintai dunia, maka ia akan merugikan akhiratnya. Siapa yang mencintai akhirat, maka ia akan merugikan dunianya. Karena itu, utamakanlah yang kekal (akhirat) di atas yang tidak kekal (dunia).

Abdullah bin Abbas r.a. berkata, Sesungguhnya Allah Swt. Menjadikan dunia terdiri dari atas tiga bagian; sebagian bagi orang yang beriman, sebagian bagi orang munafik, dan sebagian bagi orang kafir.
Orang mukmin menjadikan dunia sebagai tempat menyiapkan perbekalan, orang munafik menjadikannya sebagai perhiasan, dan orang kafir menjadikannya sebagai tempat untuk bersenang-senang. Allah hu’akbar

Wasalam

Minggu, 23 September 2012

HISAB MANUSIA DI AKHIRAT

HISAB MANUSIA DI AKHIRAT

Di dalam Al Quran Allah SWT telah berfirman :

وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلالِ وَالإكْرَامِ

Setiap yang ada di atas muka bumi ini akan binasa dan yang kekal hanyalah zat Tuhan yang Maha Mulia dan Maha Besar.”
Ar Rahman : 27
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ
Setiap yang bernyawa akan menemui kematian.”
Al Anbiya : 35

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلاقِيكُمْ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
“Sesungguhnya mati yang kamu ingin lari daripadanya itu ia akan menemui kamu.”
Al Jumu’ah :8

Demikianlah ketiga ayat di atas memberi pengertian kepada kita bahwa dunia ini dan juga kita akan mengalami kiamat. Sebelum dunia ini mengalami “kiamat kubra” (kiamat besar) maka secara berangsur-angsur dunia ini dikiamatkan secara kecil-kecilan, umpamanya pohon yang tumbang karena badai, bangunan yang runtuh karena gempa bumi atau makhluk-makhluk Allah SWT yang binasa dan musnah karena bencana alam.

Begitu juga manusia setiap hari ada yang menemui kematiannya. Adakalanya kematiannya disebabkan oleh sakit, tertabrak kendaraan, bunuh diri, mati disebabkan oleh peperangan dan berbagai lagi bentuk atau cara manusia menemui kematiannya.

Sudah menjadi “sunatullah” bahwa Allah SWT hendak menjadikan sesuatu itu dengan sebab-sebab yang tertentu. Dan matinya manusia dengan berbagai-bagai cara itu diibaratkan sebagai kiatam secara kecil-kecilan untuk sementara menunggu kiamat besar.

Allah SWT telah mentakdirkan bahwa dunia ini adalah negara sementara waktu yang tidak kekal bagi manusia. Manusia yang dilantik oleh Allah SWT di dunia ini adalah sebagai khalifah atau duta-Nya di dunia yang sementara waktu. Sementara itu kehidupan manusia di dunia adalah sesuai dengan batas waktu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Begitu juga Allah SWT telah menetapkan bahwa disamping dunia yang hanya untuk sementara waktu, ada akhirat sebagai tempat yang kekal abadi. Manusia bukan menjadi warganegara dunia yang tetap, melainkan sebagai duta Allah SWT sebelum mengalami kehidupan akhirat yang kekal abadi atau lebih tepat lagi bahwa manusia ini adalah warganegara akhirat, sebab manusia akhirnnya akan menuju juga ke akhirat.

Siapapun juga orangnya, ia pasti akan menuju ke akhirat. Yang suka akan sampai ke akhirat, yang tidak sukapun pasti sampai juga ke akhirat. Orang yang ingat kepada akhirat akan pergi ke akhirat, orang yang tidak ingatpun pasti akan pergi juga ke akhirat.

Semua manusia akan menghadapi kehidupan di akhirat, mau tidak mau. Oleh karena itu sewaktu kita diamanahkan sebagai duta atau wakil Allah SWT di atas muka bumi ini hendaklah kita mengatur diri kita, rumahtangga kita, ekonomi, pendidikan, politik, negara dasn seterusnya alam sejagat, hingga selaras dengan peraturan yang datang dari Allah SWT.
Atau lebih tepat lagi hendaklah semua aspek berdasarkan kepada Al Quran dan sunnah Rasulullah SAW. Hal yang fardhu atau sunat hendaklah sungguh-sungguh ditegakkan. Begitu juga dengan hal yang haram dan makruh hendaklah kita jauhi sungguh-sungguh. Dan dari hal yang mubah hendaklah dijadikan sebagai amal bakti (ibadah) kita kepada Allah SWT.

Apabila kita telah berhasil mengatur diri kita, rumahtangga kita, masyarakt kita dan seterusnya persoalan alam sejagat dengan segala peraturan yang datang dari Allah SWT, maka itulah yang dikatakan sebagai amal bakti atau amal sholeh.

Hal inilah yang hendak kita bawa dan persembahkan di hadapan Allah SWT di akhirat nanti. Inilah yang dikatakan pengabdian diri kepada Allah SWT. Sebuah konsep ibadah di dalam ajaran Islam adalah luas. Dan hendaklah kita ingat bahwa persoalan rukun iman yang lima itu adalah merupakan ibadah yang asas dan yang menjadi tapak dalam ajaran Islam.

Apabila setiap amal bakti kita, usaha dan ikhtiar kita baik kecil atau besar dan juga setiap perjuangan dan jihad kita selaras dengan Al Quran dan sunnah, maka itulah yang dikatakan sebagai amal taqwa. Amalah taqwa itulah yang merupakan bekal kita yang paling baik lagi teguh untuk menjalani kehidupan di akhirat nanti., Ini bertepatan sekali dengan firman Allah SWT

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ 
yang artinya :

haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal. Al Baqarah: 197

Amal taqwalah yang bakal menyelamatkan kita dari neraka dan sebab untuk kita masuk ke dalam syurga Allah SWT. Sebab itu hendaklah kita senantiasa berbekal sewaktu kita menjadi duta dan wakil Allah SWT sewaktu berada di dunia ini. Apa saja pekerjaan dan perbuatan kita hendaklah dijadikan sebagai ibadah yang merupakan amalah taqwa.

Apabila dunia hendak dikiamatkan oleh Allah SWT, maka di kala itu tidak terdapat seorang pun orang Mukmin, bahkan tidak ada seorang pun yang menyebut perkataan ALLAH. Mereka inilah yang akan dikiamatkan kubra oleh Allah SWT nnanti. Mereka nantinya akan terkejut menghadapi persoalan kiamat yang begitu hebat sekali. Itulah yang dikatakan sebagai “sangkakala” yang pertama. Maka di kala itu musnah, punah, dan huru-haralah bumi dan seluruh alam sejagat.

Ditiupnya sangkakala yang kedua menghidupkan seluruh makhluk yang bangkit dari kubur dalam keadaan tanpa berpakaian. Disamping itu manusia juga dihidupkan sesuai dengan tabiat atau perilaku mereka masing-masing sewaktu di dunia. Artinya bentuk dan rupa mereka mengikuti seperti apa bentuk kehidupan yang mereka jalani sewaktu di dunia ini.

Seandainya sewaktu hidupnnya di dunia suka menipu, berdusta, pembelit seperti ular, maka ia akan dirupakan Allah SWT seperti ular. Jika tabiatnya sewaktu hidup seperti serigala, maka ia akan dibangkitkan seperti serigala. Jika hidupnya sewaktu di dunia seperti babi, maka ia akan dirupakan seperti babi juga. Begitu juga sekiranya hidup di dunia berperangai seperti anjing, maka ia akan dirupakan seperti anjing.
Setelah itu seluruh makhluk akan dihalau ke suatu padang yang dinamakan “Padang Mahsyar”. Yaitu suatu padang tempat berhimpunnya seluruh makhluk Allah SWT terutamanya manusia, yang dimulai dari Nabi Adam a.s hingga akhir manusia yang belum kita ketahui siapa adanya. Di Padang Mahsyar inilah berkumpulnya seluruh makhluk dan ini merupakan suatu perhimpunan raksasa yang belum pernah wujud sebelumnya.

Terlalu banyaknya makhluk yang berkumpul, menyebabkan keadaan saat itu terlalu berdesakan bahkan untuk duduk pun tidak bisa. Umpama tumpukan rokok yang berada di dalam kotak rokok. Ini disebabkan oleh karena terlalu ketat dan padatnya manisa saat itu. Sementara matahari berada hanya sejengkal diatas kepala manusia. Maka sudah tentu suasana ini menimbulkan kesusahan dan kesengsaraan kepada manusia dan seluruh makhluk Allah SWT.

Walaupun manusia seluruhnya diwaktu itu dalam keadaan tanpa berpakaian, namun masing-masing tidak mempedulikan diri orang lain. Ini disebabkan oleh huru-hara dan kesulitan yang menimpa manusia. Manusia di kala itu hanya memikirkan diri mereka masing-masing karena terlalu bimbang dan takut menghadapi hari akhirat.

Kemudian manusia yang begitu bannyak itu dibariskan oleh Allah SWT sebanyak 120 barisan. Mungkin timbul di dalam fikiran kita, di antara 120 barisan itu berapa banyaklah yang matinya membawa iman ? Sebab di dalam Al Quran Allah SWT menjelaskan :
“Sedikit sekali hamba-Ku yang bersyukur”.
QS. Saba’ : 3
Sebenarnya, hanya tiga barisan saja di antara sekian banyaknya manusia yang matinya membawa iman. Inilah diantara mereka yang dianggap sebagai orang yang beriman. Sementara 117 berisan yang lain itu adalah terdiri dari orang-orang kafir dan mereka kekal di dalam neraka.
Jelaslah bahwa hanya tiga barisan saja yang membawa iman, sementara yang lainnya itu matinya dalam keadaan kafir dan menyekutukan Allah SWT.

Oleh karena iman manusia di antara satu sama lain tidak sama, maka Allah SWT membagi tiga barisan ini kepada empat barisan pula atau kita katakan bahwa mereka yang mati membawa iman itu dibagi dalam empat golongan:
  1. Golongan “Bi ghairi hisab” (golongan yang tidak dikenakan hisab)\
  2. Golongan “Ashabul yamin” (golongan yang menerima suratan di tangan kanan)
  3. Golongan “Ashabus syimal” (golongan yang menerima suratan di tangan kiri)
  4. Golongan “Ashabul A’raf” (golongan yang berada diantara syurga dan neraka)
Adapun golongan “Bi ghairi hisab” adalah terdiri dari para nabi dan rasul dan pada aulia Allah (kekasih Allah). Para aulia Allah adalah mereka yang memang bersungguh-sungguh menjaga setiap perintah dan larangan dari Allah. Mereka begitu menjaga hal yang wajib dan sunat dan sungguh meninggalkan hal yang haram bahkan hal yang makruh pun mereka tinggalkan.

Para aulia Allah adalah mereka yang paling sabar dan senantiasa redha terhadap apa saja yang menimpa mereka. Hati mereka senantiasa baik sangka kepada Allah atas apa saja musibah yang menimpa mereka.
Selain dari itu, mereka yang termasuk dalam golongan “Bi ghairi hisab” ini adalah para syuhada (orang yang mati syahid). Mereka adalah golongan orang “Muqarrabin” yang artinya orang yang terlalu dekat dengan Allah SWT disebabkan pengorbanan mereka dalam menegakkan agama Allah SWT. Bahkan nyawapun sanggup mereka korbankan semata-mata untuk mempertahankan agama Allah SWT. Sebab itu tidak heran mengapa mereka mendapat kedudukan yang begitu tinggi di sisi Allah SWT.
Orang yang terlalu sabar juga termasuk dalam golongan “Bi ghairi hisab”. Sabar itu terbagi dalam tiga bagian :
  1. Sabar melaksanakan perintah dari Allah SWT
  2. Sabar menjauhi larangan dari Allah SWT
  3. Sabar menghadapi segala ujian dari Allah SWT
Sabar melaksanakan perintah Allah SWT bukanlah suatu perkara yang mudah untuk dilaksanakan. Termasuk sabar melaksanakan perintah Allah SWT ialah seperti sabar mengerjakan shalat, berpuasa, berjuang, dan sebagainya. Semuanya itu bukan hal yang mudah untuk dilaksanakan. Sekiranya kita berhasil sabar melaksanakan perintah dari Allah SWT, maka lebih sukar lagi bagi kita untuk sabar menjauhi larangan dari Allah SWT. Terutama untuk bisa sabar menjauhi larangan Allah SWT pada maksiat pandangan mata.
Setelah kita bersabar terhadap segala larangan Allah SWT, maka lebih sukar lagi bagi kita untuk sabar menerima ujian dari Allah SWT. Kita dituntut untuk bisa sabar terhadap ujian-ujian dari Allah SWT kepada manusia seperti sakit, miskin, difitnah, kematian akan isteri, kematian ibu ayah dan sebagainya. Itu semuanya adalah ujian yang Allah SWT datangkan kepada manusia untuk menguji manusia, siap diantara mereka yang paling baik amalannya di sisi Allah.

Manusia hendaknya bersabar dan redha terhadap ujian-ujian tersebut. Karena ujian yang Allah SWT datangkan kepada manusia itu hakikatnya adalah didikan secara langsung dari Allah SWT kepada hamba-Nya. Kebanyakan manusia dididik melalui manusia yang lain melalui zahirnya. Tetapi pada hakikatnya yang mendidik manusia adalah Allah SWT sendiri. Dan ujian-ujian yang menimpa manusia sebenarnya adalah didikan secara langsung dari Allah SWT.

Oleh karena itu kita sebagai hamba-Nya hendaklah bersabar dan redha. Sebab sebagaimana yang kita tahu ujian-ujian yang datang dari Allah SWT sekiranya kita bersabar, sebenarnya ini merupakan kasih sayang dari Allah SWT kepada hambanya. Hal itu juga merupakan penghapusan dosa dari Allah SWT sekiranya kita bersabar. Demikian juga ia merupakan derajat dan pangkat yang akan Allah SWT kurniakan bagi manusia yang mau menerima didikan secara langsung dari Allah SWT seperti ini.

Seringkali, apa yang manusia mau ialah didikan melalui manusia yang lain seperti dari para tuan guru, ustaz, alim ulama dan sebagainya. Kebanyakan manusia memang tidak menginginkan sama sekali untuk mendapatkan didikan langsung dari Allah SWT seperti ini karena tidak dapat bersabar dan redha menghadapinya.

Ingatlah, seandainya manusia tidak berhasil dididik secara langsung dari Allah SWT, maka janganlah diharapkan ia berjaya untuk menerima didikan dari manusia yang lain. Sebab itu kita melihat betapa kuatnya ujian yang menimpa para nabi dan rasul, karena sebenarnya itulah didikan secara langsung dari Allah SWT kepada mereka.

Oleh karena itulah tidak heran bagaimana kuatnya iman para nabi dan rasusl semuanya. Sebab mereka menerima didikan atau pimpinan secara langsung dari Allah SWT.
Jauh berbeda dengan keadaan kita yang justru tidak senang apabila menerima ujian dari Allah SWT sedangkan itu merupakan didikan secara langsung dari Allah SWT. Sedangkan seandainya kita berhasil menghadapi itu semua, maka kita akan termasuk dalam golongan “Bi ghairi hisab” di akhirat kelak.
Dan termasuk juga dalam golongan ini di akhirat kelak ialah orang fakir yang mana ia bersabar dengan kefakirannya. Mereka ialah orang yang tidak mempunyai apa-apa pun harta benda di dunia. Apa yang ada pada mereka hanyalah pakaian yang sehelai sepinggang. Sebab itu mereka tidak dihisab di akhirat kelak. Bagaimana mungkin mereka akan dihisab sementara apa yang ada pada diri mereka hanyalah pakaian yang melekat di badan.

Disamping itu, termasuk dalam golongan “Bi ghairi hisab” ini ialah orang ahli makrifat. Yaitu orang yang begitu kenal dengan Allah SWT. Oleh karena mereka terdiri dari orang yang kenal akan Allah, maka hati mereka setiap masa senantiasa ingat akan Allah SWT. Hatinya juga setiap masa terasa hebat tentang kebesaran dan keagungan Allah SWT. Begitu juga hatinya itu setiap maa senantiasa terasa rindu kepada Allah SWT.

Apabila kiat ukur diri kita dengan mereka, terasa sekali jauh perbedaannya. Mereka adalah orang yang senantiasa mengingati Allah SWT, sedangkan kita senantiasa lalai dan durhaka kepada Allah SWT. Bukan suatu hal yang mudah untuk senantiasa ingat akan Allah SWT. Sedangkan sholat yang disebutkan oleh Allah SWT sebagai mengingati-Nya pun tidak dapat kita mengingat Allah SWT, lagilah di luar sholat kita akan semakin tidak dapat mengingati Allah SWT.

Jelaslah bahwa untuk menjadi ahli makrifat yaitu orang yang benar-benar kenal Allah SWT bukanlah suatu hal yang mudah. Ianya merupakan suatu hal yang amat susah untuk dicapai oleh kita yang memang senantiasa lalai terhadap Allah SWT.

Itulah diantara orang-orang yang termasuk di dalam golongan “Bi ghairi hisab” di akhirat kelak. Cobalah ukur diri kita, apakah kita termasuk dalam golongan ini ?

Adapun golongan “Ashabul yamin” atau golongan orang yang menerima kitab dari tangan kanan ialah golongan orang-orang soleh, abrar ataupun golongan “muflihun”. Adapun golongan “Ashabul yamin” yaitu orang-orang yang memiliki sekurang-kurangnya Iman ayan dan mereka juga adalah orang yang amal kebajikannya melebihi kejahatannya. Sungguh pun golongan ini terlepas dari azab neraka, namun mereka tidak terlepas menerima hisab dari Allah SWT. Mereka agak lambat untuk menempuh “Siratul mustaqim” disebabkan oleh pemeriksaan terhadap mereka.

Diterangkan bahwa di atas titian “Siratul Mustaqim” terdapat lima tempat pemeriksaan. Dan lima tempat pemeriksaan itu dijaga oleh para malaikat yang tugasnya memeriksa setiap hamba Allah. Bayangkanlah bagaimana sekiranya kita terhenti di kelima-lima tempat pemeriksaan itu ? sedangkan sehari di akhirat dinisbahkan dengan hari dunia adalah selama seribu tahun.

Sebab itu tidak heran mengapa orang-orang “Muqarrabin” itu tidak mau menjadi orang soleh. Sebab orang soleh, walaupun masuk ke syurga, terpaksa dihisab terlebih dahulu. Ini sudah tentu menyusahkan mereka. Sebab itu mereka lebih suka untuk mati syahid dalam mempertahankan agama Allah SWT. Sebab orang yang mati syahid, langsung dimasukkan oleh Allah SWT ke dalam syurga.

Terpaksa terhenti untuk dihisab di “Siratul Mustaqim” adalah merupakan penderitaan dan azab bagi golongan muqarrabin. Sebab itu di dalam kitab terutama kitab-kitab Tasawuf ada diterangkan bahwa kebaikan yang dibuat oleh orang abrar/orang soleh adalah merupakan kejahatan bagi golongan muqarrabin. Bagi golongan muqarrabin, sesuatu hal yang dianggap halal tetapi menyebabkan akan dihisab, itu adalah suatu kejahatan.
Untuk mengukur mudah atau tidaknya menjadi orang yang soleh, marilah kita lihat kenyataan Al Imam Ghazali. Al Imam Ghazali mengatakan bahwa orang yang hendak menjadi orang yang soleh itu mestilah 24 jam yang Allah SWT untukkan kepadanya, mestilah 18 jam diisi dengan alam baik. Cuma 6 jam saja masanya itu digunakan untuk melakukan hal yang mubah.

Adapun golongan yang ketiga yaitu “Ashabul syimal” yaitu golongan yang akan menerima kitab dari tangan kiri. Mereka ini ialah orang Mukmin yang ‘Asi atau Mukmin yang durhaka. Kejahatan mereka lebih berat dari kebaikan yang mereka lakukan. Mereka ini akan dimasukkan ke dalam neraka dahulu, sebelum dimasukkan ke dalam syurga. Mereka dimasukkan ke dalam neraka sebagai berdasarkan kepada dosa dan maksiat yang mereka lakukan. Setelah tamat penyiksaan mereka di neraka, barulah mereka akan dimasukkan ke dalam syurga.

Adapun golongan yang akhir ialah golongan “Ashabul A’raf” yaitu golongan yang amal kebaikan dan kejahatannya itu sama banyak. Golongan ini walaupun mereka terselamat dari masuk ke neraka, tetapi mereka lebih lambat masuk ke syurga daripada golongan “Ashabul yamin” yang setelah menempuh sirotul mustaqim, tidak ada halangan lagi untuk masuk ke syurga. Tetapi bagi golongan “Ashabul A’raf”, setelah mereka menempuh “Sirotul mustaqim” mereka masih lagi dihadang untuk ke syurga.

Mereka akan didera oleh Allah SWT di hujung “Sirotul mustaqim”. Bagaimana deraan Allah SWT terhadap mereka ? Deraan yang dikenakan Allah SWT kepada golongan “Ashabul A’raf” ialah diperintah supaya mereka meminta satu amal kebajikan kepada penghuni syurga. Sesiapa dari golongan mereka yang diberi oleh penghuni syurga satu amal kebajikan, maka dia diperbolehkan untuk masuk ke syurga. Maka mondar-mandirlah mereka untuk meminta belas kasihan penghuni-penghuni syurga. Setelah sekian lama, maka barulah Allah SWT masukkan ke dalam hati penghuni syurga untuk memberikan kepada mereka satu amalan kebajikan.

Tetapi anehnya, orang yang mempunyai banyak amal kebajikannya tidak mau langsung memberikan satu amalan kebajikannya kepada golongan ini. Sebaliknya mereka yang memberikan amal kebajikannya ialah orang yang mempunyai lebih satu saja amalan kebajikannya.
Maka Allah SWT pun berfirman kepada golongan ini yang antara lain,

Sekiranya kamu hamba-hamba-Ku yang mempunyai lebih satu amalan kebajikan, begitu pemurah kepada hamba-hamba-Ku dan terus ke syurga, maka sesungguhnya Aku lebih pemurah dari itu.”

Maka dengan ini hamba Allah yang pemurah itu pun dinaikkan derajatnya oleh Allah SWT di syurga. Inilah kelebihan yang dikaruniakan oleh Allah SWT kepada mereka di akhirat.
Dari uraian-uraian yang dijelaskan di atas marilah kita membuat ukuran di golongan manakah kita berada ? Apakah kita berada di golongan “Bi ghairi hisab” ? “Ashabul yamin” ? “Ashabus syimal” ? atau “Ashabul A’raf” ?

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by newwpthemes | Thanks to r4i, memory cards and Amazetemplates.com